Thursday, September 6, 2007

Biwari sebuah “Dewan diskusi adikara”

Biwari sebuah “Dewan diskusi adikara”

Semalam berkumpulah dewani di balairung yang mulia,
Menghadir diskusi adikara,
Dewan diskusi adikara menjadi saksi,
Satu keabsahan yang disangsi,
.
.
Maharesi memula bicara memula acara,
Dewani-dewani melontar hujah bicara,
Mahu memilih legasi penerus,
Satu perjuangan memartabat adicita,
Islam tertingi dari Yang Maha Esa,
.
.
Seorang dewani menghujahkan bayinah,
Keadaan yang sangat cangkaliwang,
Dewani ini tak terpandu akan perasaan,
.
.
“Wahai orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(nya) dan Ulil-Amri daripada kalangan kamu.Kemudian sekiranya kamu berselisih tentang sesuatu urusan maka kembalilah pada Allah (Al-Quran) dan Rasulnya(hadis-hadisnya).Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu dan lebih bagus kesudahanya” An-Nisa 49
.
.
Sang Dewani pun mencari erti di dalam Al-Furqan dan As-Sabda,

.
Dek kerana mendokong agenda,
Dengan penuh ceneker,
Sabda nabi dan Bayinat Ilmiah berdasar sirah di pandang keceng,
Dewan diskusi adikara menjadi Mahadeper,
Maharaja merasa anteng,
Merasa puas dan menang,
Bayangkara yang mengawal maharaja menjadi dalil,
Mempertahan dan mengukuhkan lagi dewala,
Dewala yang selama ini menutup astana,
Tak lagi dapat dirobohkan,
.
.
Sang Dewani berasa kecele,
Diktum Dewan diskusi adikara tidak lagi autehentik,
Bagi Sang Dewani,
Patuhnya hanya pada Yang Maha Esa,
Pada baginda,
Apabila menolak Al-Furqan dan As-Sabda,
Tiada lagi kepatuhan pada insan,
.
.
Apabila tiada lagi adalat,
Adakah akan terjadi Maharana?
Sang Dewani yang tiada apa-apa berhadapan bayangkara dan abintara.
Yang ada hanyalah sebilah cendarasa.
.
.
Inilah sebuah ceritera,inilah bewari,
Sang cenderawasih yang mulia,
Menjadi mangsa baghi,
Yang melunaskan adikaranya,
.
Syaksi sang cenderawasih yang telah digoyangi.
Lalu..
Sang Cenderawsih di tolak jauh,
Hanya dek kerana cemidunya,
“Mana mungkin sang Cenderawasih yang cenderawasih memimpin armada merak kayangan”
Itulah telahan dinda-dinda raja,
Sedang cemidulah yang memuliakan bidadari-bidadari syurga,
.
.
Aku hanya yakin pada Yang Maha Esa,
Doaku terus mengufuk Azimuth,
Memohon taufiq Tuhan,
Aku berlindung dengan mu Ya Allah,
Dari Sifat Kezaliman Diriku dan Insan.
Daku yakin dan Beriman dengan Firmanmu dan Sabdanya,
Aku takut akan murkamu,
.
.
Aku bukan lagi sang Dewani,
Dewan diskusi tidak lagi adikara bahkan menjadi Mahadeper,

No comments: